Tag Archives: asal-usul

Legenda Dibalik Indahnya Sungai Pekalen

Legenda Dibalik Indahnya Sungai Pekalen

Legenda Dibalik Indahnya Sungai Pekalen

Legenda Dibalik Indahnya Sungai PekalenMengulik Sejarah dan legenda Di Balik Indahnya Sungai Pekalen
Sungai Pekalen adalah salah satu tempat wisata alam yang mampu menyuguhkan pengalaman seru petualangan arung jeram. Objek wisata idaman bagi para pecinta rung jeram ini tepatnya berada di Gendang, Tiris, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Dari hari ke hari, objek wisata arung jeram yang satu ini semakin diminati oleh para wisatawan, baik pelancong lokal maupun mancanegara. Rata-rata wisatawan yang datang merupakan rafter. Mereka tertantang untuk menjajal derasnya arus Sungai Pekalen.

Namun, tidak banyak yang tahu bagaimana sejarah dan legenda di balik indahnya Sungai Pekalen. Untuk dapat mengetahuinya, berikut sejarah dari Sungai Pekalen yang sayang untuk dilewatkan jika Anda adalah salah satu penikmat arung jeram di kawasan tersebut.

Mengulik Sejarah Sungai Pekalen Nan Indah
Berdasarkan legenda, Sungai Pekalen Bawah khususnya, sering disebut sebagai Sungai Bersejarah. Hal tersebut dikarenakan terdapat 2 legenda yang berkembang di daerah tersebut. Adapun kisah pertama adalah mengenai perjalanan Sang Prabu Hayam Wuruk bersama Mahapatih Gajah Mada yang berkunjung ke beberapa tempat eksotis di seluruh Pulau Jawa. Beberapa tempat yang dikunjungi antara lain adalah Air Terjun Madakaripura dan sejumlah tempat di Probolinggo, termasuk Bremi, Tongas, Jabung, Binor, Pajarakan, Borang, Sagara (Segaran di Tiris), Gending, Ketompen (di wilayah Pajarakan) dan masih banyak lagi. Sementara Sungai Pekalen menjadi salah satu tempat favorit dari Mahapatih Gajah Mada. Sungai Pekalen juga dianggap menjadi titik awal Songa yang diduga sebagai tempat mandi. Sedangkan untuk legenda yang kedua adalah mengenai kisah Ratu Dewi Rengganis yang pernah berhenti dan membangun sebuah istana di sisi sungai sebelum memutuskan melarikan diri ke Gunung Argopuro.

Legenda Hayam Wuruk yang Mengakar Di Sungai Pekalen
Berkunjung ke bumi Probolinggo sekarang ini memang ibarat menyusuri kembali perjalanan Hayam Wuruk sekitar 500 tahun yang lalu. Konon, berdasarkan legenda yang beredar di masyarakat sekitar, tidak lama setelah Mahapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit berhasil mempersatukan wilayah Nusantara pada tahun 1357 Masehi, Raja Hayam Wuruk merupakan orang pertama yang menjadi saksi bagaimana indahnya panorama alam Probolinggo.

Lantaran terpesona dan kagum dengan keindahan panorama yang ada di tempat tersebut, Hayam Wuruk sempat sengaja lebih lama bercengkerama tempat tersebut. Akhirnya tempat yang menjadi lokasi bercengkerama oleh Hayam Wuruk tersebut dikenal dengan prabu linggih yang lama kelamaan mengalami perubahan lafal menjadi Probolinggo. Sedangkan untuk starting point dari Songa Rafting adalah salah satu tempat yang diduga sering digunakan mandi oleh Mahapatih Gajah Mada.

Seperti yang diketahui, Sungai Pekalen berada sekitar 25km dari kota Probolinggo. Tepatnya tempat tersebut membentang di antara 3 kecamatan berturut-turut yakni kecamatan Tiris, Maron serta Gading. Untuk bentangan sungai yang dapat diarungi oleh rafter sendiri berjarak 29 km. Panjang arung tersebut terbagi atas tiga area.

Legenda Dibalik Indahnya Sungai Pekalen

Dengan karakter sungai yang bertebing dan berbelok, ditambah panorama alam yang begitu indah, Sungai Pekalen dengan puluhan jeram mulai dari grade 2 sampai dengan 3 ke atas yang eksotis akan terasa lebih menantang. Bahkan kemegahan air terjun sekaligus kemolekan gua-gua kelelawar dan masih ditemuinya dengan beberapa satwa langka layaknya burung kepodang, burung elang, biawak, monyet, tupai, linsang dan masih banyak lagi menjadi daya tarik tersendiri yang dapat dinikmati oleh para wisatawan selama perjalanan. Terutama selama menikmati serunya arung jeram yang sangat menantang adrenalin usai mengetahui sejarak dan legenda di balik indahnya Sungai Pekalen.

Sejarah Panjang Letusan Gunung Bromo

Sejarah Panjang Letusan Gunung Bromo

Sejarah Panjang Letusan Gunung Bromo

Sejarah Panjang Letusan Gunung BromoGunung Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif di Indonesia dan beberapa kali telah mengalami letusan yang mengeluarkan material vulkanik ke permukaan tanah. Selama abad ke-20, Gunung Bromo telah meletus sebanyak 3 kali dan masing-masing memiliki karakteristiknya sendiri, karena itulah letusan Gunung Bromo sulit untuk diprediksi. Letusan terdahsyat yang pernah dialami Gunung Bromo adalah pada tahu 1974 yang memakan banyak korban. Selain mengalami letusan, Gunung Bromo juga banyak mengalami erupsi di mana catatan paling tua mengenai erupsi Gunung Bromo terjadi pada tahun 1775.

Pada tahun 2015/2016, Gunung Bromo kembali mengalami erupsi tepatnya pada bulan Desember. Erupsi yang terjadi ditandai dengan keluarnya asap vulkanik yang tebal dari kawah gunung dan juga semburan abu yang sesekali keluar dari kawah. Karena kondisinya saat ini yang masih berbahaya, status Gunung Bromo dinyatakan Siaga 3 dan tidak boleh didekati oleh manusia dalam jarak 3 km. Meski begitu belum diketahui apakah Gunung Bromo akan mengalami letusan atau tidak dan dihimbau agar para masyarakat di kawasan Gunung Bromo tidak panik menghadapi situasi ini. Untuk tahu lebih lanjut mengenai sejarah panjang letusan Gunung Bromo, berikut adalah pembahasannya.

2016/2015, 2011/2010, 2004, 2001, 1995, 1984, 1983, 1980, 1972, 1956, 1955, 1950, 1948, 1940, 1939, 1935, 1930, 1929, 1928, 1922, 1921, 1915, 1916, 1910, 1909, 1907, 1908, 1907, 1906, 1907, 1896, 1893, 1890, 1888, 1886, 1887, 1886, 1885, 1886, 1885, 1877, 1867, 1868, 1866, 1865, 1865, 1860, 1859, 1858, 1858, 1857, 1856, 1844, 1843, 1843, 1835, 1830, 1830, 1829, 1825, 1822, 1823, 1820, 1815, 1804, 1775, dan 1767 (awal letusan).

Dan di bawah ini adalah sedikit pembahasan mengenai Sejarah Panjang Letusan Gunung Bromo untuk tahun 2004, 2010 dan 2011

Erupsi Gunung Bromo tahun 2004
Erupsi yang terjadi pada tahun 2004 tidak termasuk besar karena hanya berlangsung sebentar, meski ada korban meninggal yang terjebak dalam erupsi Gunung Bromo saat itu. Korban meninggal yang tercatat berjumlah dua orang yang merupakan wisatawan Gunung Bromo dan tertimbun oleh muntahan pasir dari kawah gunung. Erupsi Gunung Bromo pada tahun 2004 hanya berlangsung selama 20 menit saja dengan tanda-tanda erupsi seperti gempa atau tremor yang kurang teratur.

Erupsi Gunung Bromo tahun 2010
Sama seperti tremor pada tahun 2015, erupsi pada tahun 2010 juga mulai menunjukkan tanda-tanda pada bulan November. Sejak aktivitas Gunung Bromo mulai meningkat, pemerintah telah menghimbau masyarakat lokal untuk mengungsi dan bisa menempati beberapa pos pengungsi yang sudah disediakan. Area Gunung Bromo juga ditutup dengan radius 3 km dari padang pasir, serta penerbangan yang masuk ke Malang ditutup sampai tanggal 4 Desember 2010. Gunung Bromo erupsi pada tanggal 26 November 2010 yang memuntahkan abu vulkanik setinggi 700 meter ke angkasa.

Erupsi Gunung Bromo tahun 2011
Erupsi yang terjadi pada awal tahun 2011 merupakan kelanjutan dari yang terjadi pada November 2010. Hingga bulan Desember 2010, Gunung Bromo masih dilaporkan mengeluarkan debu-debu vulkanik dan juga gempa tremor yang mendominasi seismograf. Erupsi pada tahun 2011 terjadi mulai tanggal 21 Januari dan mulai mereda tanggal 23 Januari 2011. Masyakarat ketika itu sudah diungsikan ke tempat yang aman terutama mereka yang tinggalnya dekat dengan kawah Gunung Bromo.

Baca juga: Sejarah dan Legenda Gunung Bromo

Bagi masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai diberi peringatan akan adanya aliran lahar dingin dan material vulkanik lainnya karena ketika itu hujan sedang turun deras-derasnya. Hingga akhir Januari, para pendaki ataupun wisatawan dilarang untuk memasuki kawasan Gunung Bromo melebihi batas radius yaitu 2 km. Berbagai upaya dilakukan banyak pihak untuk mengatasi kerusakan dan dampak lain dari erupsi Gunung Bromo yang berlangsung cukup lama ini seperti misalnya membagikan masker pernapasan dan juga himbauan untuk membersihkan atap dari tumpukan abu yang bisa merubuhkan rumah. Itulah pembahasan singkat mengenai sejarah panjang erupsi Gunung Bromo yang seharusnya membuat Anda lebih waspada lagi terhadap kekuatan alam.

Sejarah Panjang Letusan Gunung Bromo

Demikianlah informasi seputar Sejarah Panjang Letusan Gunung Bromo yang kini masih menjadi perbincangan masyarakat. Semoga bisa membantu bagi anda yang ingin melakukan pembekalan tentang situasi di Bromo.

Legenda dan Sejarah Gunung Bromo

Legenda dan Sejarah Gunung Bromo

Legenda dan Sejarah Gunung Bromo

Legenda dan Sejarah Gunung BromoDi balik wisata gunung bromo yang indah dan mempesona terdapat sebuah hikayat sejarah gunung Bromo atau legenda Gunung Bromo yang berkembang hingga sekarang. Sebuah suku di kawasan Bromo yang bernama Suku tengger mempunyai asal-usul dan cerita terbentuknya nama “TENG-GER” itu sendiri. Diceritakan pada zaman dahulu kala tentang Legenda dan Sejarah Gunung Bromo, ketika para dewa-dewi masih senang turun ke dunia, Sebuah keraja’an besar bernama Majapahit mengalami serangan dari berbagai daerah. Penduduk setempat pun kebingungan untuk mencari tempat pengungsian, demikian juga dengan dewa-dewa. Pada saat itulah para dewa-dewa itu mulai pergi menuju ke sebuah pegunungan, yang bernama Gunung Brahma, yang sekarang di sebut Gunung Bromo.

Pada kala itu Bromo masih begitu tenang, tegak diselimuti kabut putih. Dewa-dewa yang mendatangi tempat di sekitar Gunung Bromo, dan bersemayam di lereng Gunung tertinggi yaitu Pananjakan, untuk mendapatkan sebuah ketenangan dalam kehidupan. Tidak hanya itu di penanjakan itu pula terdapat sebuah tempat dewa-dewa bersemayam, terdapat pula tempat pertapa. Bertapa tersebut adalah bentuk kerjanya tiap hari hanya untuk memuja dan mengheningkan cipta. Suatu ketika hari yang berbahagia, Seorang istri dari mereka melahirkan seorang anak laki-laki. Wajahnya tampan, cahayanya terang. Benar-benar anak yang lahir dari titisan jiwa yang suci. Sejak dilahirkan, anak tersebut menampakkan kesehatan dan kekuatan yang luar biasa. Saat ia lahir, anak pertapa tersebut sudah dapat berteriak. Genggaman tangannya sangat erat, tendangan kakinya pun kuat. Tidak seperti anak-anak lain pada umumnya. Pada saat itu pula bayi tersebut dinamai JOKO SEGER, yang artinya Joko yang sehat dan kuat.

Di tempat sekitar Gunung Pananjakan itu pula, Lahirlah seorang anak perempuan yang merupakan titisan dewa. Wajahnya cantik dan elok. Dia satu-satunya anak yang paling cantik di tempat itu. Waktu dilahirkan, anak itu tidak layaknya bayi lahir. Ia diam, tidak menangis sewaktu pertama kali menghirup udara. Bayi itu begitu tenang, lahir tanpa menangis dari rahim ibunya. Maka oleh orang tuanya, bayi itu dinamai RARA ANTENG yang artinya Rara yang Tenang.

Dari hari ke hari tubuh Rara Anteng tumbuh menjadi gadis besar, para masyarakat menyebutnya se orang gadis desa. Garis-garis kecantikan nampak jelas diwajahnya. Termasyurlah Rara Anteng sampai ke berbagai tempat. Banyak putera raja melamarnya. Namun pinangan itu ditolaknya, karena Rara Anteng sudah terpikat hatinya kepada Joko Seger yang tampan.

Tetapi hal buruk pun terjadi, Suatu hari Rara Anteng dipinang oleh seorang bajak yang terkenal saktinya dan kuat ia bernama Kyai BIMA. Bajak tersebut terkenal sangat jahat, tidak ada satupun yang berani menghadapi bajak tersebut. Rara Anteng yang terkenal halus perasaannya pun tidak berani menolak begitu saja kepada pelamar yang sakti itu. Rara Anteng akan menerima pinangannya jika dibuatkan sebuah lautan di tengah-tengah gunung. Dengan permintaan yang aneh, dianggapnya pelamar sakti itu tidak akan memenuhi permintaannya. Lautan yang diminta itu harus dibuat dalam waktu satu malam, yaitu diawali saat matahari terbenam hingga selesai ketika matahari terbit. tetapi permintaan itu terlalu mudah untuk di lakukan, akhirnya Rara anteng pun tampak murung karena perminta’annya Disanggupinya.

Pelamar sakti tadi memulai mengerjakan lautan dengan alat sebuah tempurung (batok kelapa), dari detik ke detik, menit ke menit dan jem ke jam dan pekerjaan itu hampir selesai. Melihat kenyataan demikian, hati Rara Anteng mulai gelisah. Rara anteng pun berfikir bagaimana cara menggagalkan lautan yang sedang dikerjakan oleh Bajak itu? Rara Anteng merenungi nasibnya, ia tidak bisa hidup bersuamikan orang yang tidak ia cintai. Kemudian ia berusaha menenangkan dirinya. Tiba-tiba timbul niat untuk menggagalkan pekerjaan Bajak itu. Rara Anteng mengambil sebuah alat penumbuk padi dan mengambil Padi secukupnya dan mulailah menumbuk padi di tengah malam. Pelan-pelan suara tumbukan dan gesekan alu membangunkan ayam-ayam yang sedang tidur. Kokok ayam pun mulai bersahutan, seolah-olah fajar telah tiba, tetapi penduduk belum bangun dan mulai dengan kegiatan pagi.

Bajak mendengar ayam-ayam berkokok, tetapi benang putih disebelah timur belum juga nampak. Berarti fajar datang sebelum waktunya. Sesudah itu dia merenungi nasib sialnya. Tempurung (Batok kelapa) yang dipakai sebagai alat mengeruk pasir itu dilemparkannya dan jatuh tertelungkup di samping Gunung Brahma (Bromo) dan berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok.

Dengan kegagalan Bajak membuat lautan di tengah-tengah Gunung Bromo, suka citalah hati Rara Anteng. Ia melanjutkan hubungan dengan kekasihnya, Joko Seger. Kemudian hari Rara Anteng dan Joko Seger menjadi pasangan suami istri yang bahagia, karena keduanya saling mencintai dan mengasihi begitulah kisah sejarah gunung bromo asal mulanya.

Melanjutkan isi Legenda dan sejarah gunung bromo: Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya “Penguasa Tengger Yang Budiman”. Nama Tengger merupakan akronim dari Roro Anteng, disingkat “Teng” dan Joko Seger disingkat “Ger”. Sehingga muncul-lah kata “TENGGER”. Kata Tengger berarti juga Tenggering Budi Luhur atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi.

Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumahtangga belum juga dikaruniai keturunan. Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar karuniai keturunan.

Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo, Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, berbahagialah mereka, tetapi mereka ingat akan akan syarat yang mereka sanggupi pada waktu itu, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita, badai besar pun tiba hingga kawah Gunung Bromo menyemburkan api, dan konon Api itu seperti lidah yang mencari tumbalnya.

Baca juga: Rute dan Akses Menuju Wisata Gunung Bromo

Akhir dari Sejarah gunung Bromo: Tertujulah lidah api tersebut ke pada anak bungsu mereka yaitu KUSUMA. Raden Kusuma pun lenyap dari pandangan karena terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kusuma terdengarlah suara gaib :”Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo. Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Nyadnya Kasada atau Kasodo di Pura Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.

Sejarah Gunung Bromo

Begitulah singkat Cerita dari Legenda dan sejarah Gunung Bromo. Semoga Legenda Gunung Bromo ini melekat untuk kita semua dan menjunjung tinggi adat dan budaya yang berpatokan pada nilai-nilai kearifan lokal hingga sekarang. Bagikanlah sejarah gunung Bromo ini supaya mereka mengenal lebih dekat dengan Bromo.