Suku Tengger Bromo

Suku Tengger Bromo

Suku Tengger BromoKetika anda sedang berliburan di Bromo mungkin anda akan melihat warga yang menggunakan pakaian yang berbeda seperti biasanya, seperti memakai Udeng, sarung yang di buat selendang dan memakai baju adat, ya mereka lah yang di sebut warga Suku Tengger Bromo sebuah suku yang tinggal di sekitar kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur, Indonesia. Mereka mempunyai daerah persebaran disekitar kab. Probolinggo, Lumajang, (Ranupane kecamatan Senduro), Malang (desa Ngadas kecamatan Poncokusumo), dan Pasuruan (Tosari). Sementara pusat kebudayaan aslinya adalah di sekitar pedalaman kaki gunung Bromo. Menurut mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat suku Tengger Bromo, mereka berasal dari keturunan nenek moyang mereka yaitu Roro Anteng dan Joko Seger dan mengambil nama akronim mereka “TENG” dan “GER” dan di dirikanlah sebuah suku yang di beri nama Suku Tengger. Sebuah kampung yang di pemimpin oleh mereka berdua yaitu Roro Anteng dan Joko Seger. (Baca: Sejarah Gunung Bromo)

Selain asal muasal dari nenek moyang mereka adapula menyebutnya jika nama suku Tengger ber asal dari:

Tengger berarti berdiri tegak atau berdiam tanpa gerak, yang melambangkan watak orang Tengger yang berbudi pekerti luhur, yang harus tercermin dalam segala aspek kehidupan.
Tengger bermakna pegunungan (Gunung Tengger), yang sesuai dengan daerah kediaman suku Tengger.

Suku Tengger Bromo mempunyai unsur unsur budaya yang berkembang di antaranya adalah:

  1. SEGI BAHASA
    Bahasa yang di gunakan dalam sehari- hari oleh masyarakat Tengger adalah bahasa Jawi kuno yang diyakini sebagai dialek asli orang-orang Majapahit. Bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab mantra pun menggunakan tulisan Jawa Kawi. Tidak ada tinggkatan bahasa dalam Suku Tengger karena mereka menggunakan bahasa Jawa dialek tengger, meski pada umumnya bahasa jawa mempunyai sebiah tingkatan bahasa.
  2. SEGI PENGETAHUAN
    Pendidikan yang berkembang saat ini pada masyarakat Tengger sudah mulai terlihat pesat, beberapa dari mereka berpartisipasi dalam hal pendidikan untuk kemajuan warga sekitar. dengan dibangunnya sekolah-sekolah, baik tingkat dasar maupun menengah disekitar kawasan Tengger membuat mereka mendapatkan sumber pengetahuan yang luar biasa dan bisa mereka gunakan untuk kepentingan bersama.
  3. SEGI TEKNOLOGI
    Dalam kehidupan suku Tengger, sudah mengalami teknologi komunikasi yang dibawa oleh wisatawan-wisatawan domestik maupun mancanegara sehingga cenderung menimbulkan perubahan kebudayaan. tetapi kebudayaan yang melekat pada mereka itu tidak akan pernah mudar oleh zaman. Hanya saja kebudayaan yang berada di Suku Tengger tidak memiliki kekayaan seni budaya tradisional, dan untuk masyarakat Tengger juga tidak memiliki istana, pustaka, seperti Suku lainnya. Tetapi suku Tengger sendiri juga memiliki beberapa objek penting yaitu lonceng perungggu dan sebuah padasan di lereng bagian utara Tengger yang telah menjadi puing.
  4. SEGI RELIGI
    Adapun agama yang menjadi mayoritas masyarakat Tengger adalah agama Hindu, Agama hindu yang menganut kepercayaan pada dewa Brahma (Bromo), berbeda sekali dengan agama Hindu yang dianut masyarakat di Bali yang menganut kepercayaan kepada Dewa Siwa. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger adalah Hindu Mahayana. Selain itu, adapula dari meraka yang menganut agama lain seperti agama Islam, Protestan, Kristen, dll. Berdasarkan ajaran agama Hindu yang dianut, setiap tahun mereka melakukan upacara yang di sebut Upacara Yadnya Kasada. Sebuah upacara adat sebagai ucapan rasa syukur mereka atas pengorbanan yang dilakukan oleh para pendahulu mereka di masa lalu. Selain Kasodo, upacara lain yang mereka rayakan yaitu upacara Karo, Kapat, Kapitu, Kawulo, Kasanga dengan waktu dan bulan yang telah mereka tetapkan.
  5. ORGANISASI SOSIAL
    PERKAWINAN. Sebelum ada Undang-Undang perkawinan banyak anak-anak suku Tengger yang kawin dalam usia belia, misalnya pada usia 10-14 tahun. Namun, pada masa sekarang hal tersebut sudah banyak berkurang dan pola perkawinannya endogami. Adat perkawinan yang diterapkan oleh suku Tengger tidak berbeda jauh dengan adat perkawinan orang Jawa hanya saja yang bertindak sebagai penghulu dan wali keluarga adalah dukun Pandita, disamping itu upacara pernikahan harus di daftarkan terlebih dahulu kepada ketua adat untuk mendapatkan tanggal yang baik. Adat menetap setelah menikah adalah neolokal, yaitu pasangan suami-istri bertempat tinggal di lingkungan yang baru. Untuk sementara pasangan pengantin berdiam terlebih dahulu dilingkungan kerabat istri.
    SISTEM KEKERABATAN.
    Seperti orang Jawa lainnya, orang Tengger menarik garis keturunan berdasarkan prinsip bilateral yaitu garis keturunan pihak ayah dan ibu. Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak.
    SISTEM KEMASYARAKATAN.
    Masyarakat suku Tengger terdiri atas kelompok-kelompok desa yang masing-masing kelompok tersebut dipimpin oleh tetua. Dan seluruh perkampungan ini dipimpin oleh seorang kepala adat. Masyarakat suku Tengger amat percaya dan menghormati dukun di wilayah mereka dibandingkan pejabat administratif karena dukun sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Tengger. Masyarakat Tengger mengangkat masyarakat lain dari luar masyarakat Tengger sebagai warga kehormatan dan tidak semuanya bisa menjadi warga kehormatan di masyarakat Tengger. Masyarakat muslim Tengger biasanya tinggal di desa-desa yang agak bawah sedangkan Hindu Tengger tinggal didesa-desa yang ada di atasnya.
  6. MATA PENCAHARIAN
    Mata Pencaharian di kawasan Tengger beragam, sebagian ada yang bekerja sebagai penyedia jasa Sewa Kuda untuk para wisatawan yang ingin ke kawah Bromo, ada yag bekerja sebagai penyedia Jasa sewa Jeep Bromo, Jasa Sewa homestay, Sewa motor Trail, dan menjadi profesi sebagai pemandu/Guide wisata Bromo, tetapi pada umumnya masyarakat Tengger umumnya hidup sebagai petani di ladang. Prinsip mereka adalah tidak mau menjual tanah (ladang) mereka pada orang lain selain warga Tengger, bagi anda, misal anda ingin membeli tanah atau ladang di kawasan Tengger untuk membuka usaha pariwisata seperti hotel dan homestay syarat mutlak adalah anda harus menikah dengan warga Suku Tengger, selain itu anda juga berpindah agama menjadi agama Hindu.
  7. SEGI KESENIAN
    Kesenian tradional untuk warga Tengger adalah Tarian khas suku Tengger sebuah tari sodoran yang ditampilkan pada perayaan Karo dan Kasodo. Dari segi kebudayaan, masyarakat Tengger banyak terpengaruh dengan budaya pertanian dan pegunungan yang kental meskipun sebagian besar budaya mereka serupa dengan masyarakat Jawa umumnya, namun ada pantangan untuk memainkan wayang kulit.
    NILAI-NILAI BUDAYA
    Orang Suku Tengger Bromo sangat dihormati oleh masyarakat Tengger karena mereka selalu hidup rukun, sederhana, dan jujur serta mereka sangat menghormati Dukun dan Tetua adat mereka. Orang Tengger suka bekerja keras, ramah, tdak ada kriminal di kawasan Tengger seperti pencurian dan perampokan, karena mereka takut untuk berbuat jahat seperti mencuri dan merampok karena mereka dibayangi rasa ketakuan dan percaya dengan hukum karma apabila mencuri barang orang lain maka akan datang balasan yaitu hartanya akan hilang lebih banyak lagi.
    ASPEK PEMBANGUNAN
    Aspek pembangunan yang terlihat adalah pada sektor pariwisata misalnya dengan pembangunan-pembangunan akses-akses menuju wisata gunung Bromo agar lebih mudah dijangkau oleh wisatawan. Mulai dari via Malang, Lumajang, Pasuruan dan Probolinggo yang merupakan salah satu pintu gerbang daerah Tengger, semua bisa di akses dengan mudah. Misal seperti dari via Probolinggo, akses menuju Bromo yang melalui sebuah Desa. Di tengah desa itu terdapat pasar Sukapura dan tempat-tempat ibadah seperti masjid bagi umat Islam dan pura bagi umat Hindu. Selain itu terdapat pula kantor kelurahan, kantor kecamatan, dan koramil, kantor PKK, sekolah dasar, madrasah, taman-kanak-kanak, pos kesehatan, dan taman gizi serta puskesmas. Jadi desa-desa yang ada di wilayah Tengger sudah cukup maju.

Suku Tengger Bromo

Demikianlah informasi menarik untuk Suku Tengger yang berdiam di kaki gunung Bromo, semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca.