Legenda dan Sejarah Gunung Bromo

Legenda dan Sejarah Gunung Bromo

Legenda dan Sejarah Gunung BromoDi balik wisata gunung bromo yang indah dan mempesona terdapat sebuah hikayat sejarah gunung Bromo atau legenda Gunung Bromo yang berkembang hingga sekarang. Sebuah suku di kawasan Bromo yang bernama Suku tengger mempunyai asal-usul dan cerita terbentuknya nama “TENG-GER” itu sendiri. Diceritakan pada zaman dahulu kala tentang Legenda dan Sejarah Gunung Bromo, ketika para dewa-dewi masih senang turun ke dunia, Sebuah keraja’an besar bernama Majapahit mengalami serangan dari berbagai daerah. Penduduk setempat pun kebingungan untuk mencari tempat pengungsian, demikian juga dengan dewa-dewa. Pada saat itulah para dewa-dewa itu mulai pergi menuju ke sebuah pegunungan, yang bernama Gunung Brahma, yang sekarang di sebut Gunung Bromo.

Pada kala itu Bromo masih begitu tenang, tegak diselimuti kabut putih. Dewa-dewa yang mendatangi tempat di sekitar Gunung Bromo, dan bersemayam di lereng Gunung tertinggi yaitu Pananjakan, untuk mendapatkan sebuah ketenangan dalam kehidupan. Tidak hanya itu di penanjakan itu pula terdapat sebuah tempat dewa-dewa bersemayam, terdapat pula tempat pertapa. Bertapa tersebut adalah bentuk kerjanya tiap hari hanya untuk memuja dan mengheningkan cipta. Suatu ketika hari yang berbahagia, Seorang istri dari mereka melahirkan seorang anak laki-laki. Wajahnya tampan, cahayanya terang. Benar-benar anak yang lahir dari titisan jiwa yang suci. Sejak dilahirkan, anak tersebut menampakkan kesehatan dan kekuatan yang luar biasa. Saat ia lahir, anak pertapa tersebut sudah dapat berteriak. Genggaman tangannya sangat erat, tendangan kakinya pun kuat. Tidak seperti anak-anak lain pada umumnya. Pada saat itu pula bayi tersebut dinamai JOKO SEGER, yang artinya Joko yang sehat dan kuat.

Di tempat sekitar Gunung Pananjakan itu pula, Lahirlah seorang anak perempuan yang merupakan titisan dewa. Wajahnya cantik dan elok. Dia satu-satunya anak yang paling cantik di tempat itu. Waktu dilahirkan, anak itu tidak layaknya bayi lahir. Ia diam, tidak menangis sewaktu pertama kali menghirup udara. Bayi itu begitu tenang, lahir tanpa menangis dari rahim ibunya. Maka oleh orang tuanya, bayi itu dinamai RARA ANTENG yang artinya Rara yang Tenang.

Dari hari ke hari tubuh Rara Anteng tumbuh menjadi gadis besar, para masyarakat menyebutnya se orang gadis desa. Garis-garis kecantikan nampak jelas diwajahnya. Termasyurlah Rara Anteng sampai ke berbagai tempat. Banyak putera raja melamarnya. Namun pinangan itu ditolaknya, karena Rara Anteng sudah terpikat hatinya kepada Joko Seger yang tampan.

Tetapi hal buruk pun terjadi, Suatu hari Rara Anteng dipinang oleh seorang bajak yang terkenal saktinya dan kuat ia bernama Kyai BIMA. Bajak tersebut terkenal sangat jahat, tidak ada satupun yang berani menghadapi bajak tersebut. Rara Anteng yang terkenal halus perasaannya pun tidak berani menolak begitu saja kepada pelamar yang sakti itu. Rara Anteng akan menerima pinangannya jika dibuatkan sebuah lautan di tengah-tengah gunung. Dengan permintaan yang aneh, dianggapnya pelamar sakti itu tidak akan memenuhi permintaannya. Lautan yang diminta itu harus dibuat dalam waktu satu malam, yaitu diawali saat matahari terbenam hingga selesai ketika matahari terbit. tetapi permintaan itu terlalu mudah untuk di lakukan, akhirnya Rara anteng pun tampak murung karena perminta’annya Disanggupinya.

Pelamar sakti tadi memulai mengerjakan lautan dengan alat sebuah tempurung (batok kelapa), dari detik ke detik, menit ke menit dan jem ke jam dan pekerjaan itu hampir selesai. Melihat kenyataan demikian, hati Rara Anteng mulai gelisah. Rara anteng pun berfikir bagaimana cara menggagalkan lautan yang sedang dikerjakan oleh Bajak itu? Rara Anteng merenungi nasibnya, ia tidak bisa hidup bersuamikan orang yang tidak ia cintai. Kemudian ia berusaha menenangkan dirinya. Tiba-tiba timbul niat untuk menggagalkan pekerjaan Bajak itu. Rara Anteng mengambil sebuah alat penumbuk padi dan mengambil Padi secukupnya dan mulailah menumbuk padi di tengah malam. Pelan-pelan suara tumbukan dan gesekan alu membangunkan ayam-ayam yang sedang tidur. Kokok ayam pun mulai bersahutan, seolah-olah fajar telah tiba, tetapi penduduk belum bangun dan mulai dengan kegiatan pagi.

Bajak mendengar ayam-ayam berkokok, tetapi benang putih disebelah timur belum juga nampak. Berarti fajar datang sebelum waktunya. Sesudah itu dia merenungi nasib sialnya. Tempurung (Batok kelapa) yang dipakai sebagai alat mengeruk pasir itu dilemparkannya dan jatuh tertelungkup di samping Gunung Brahma (Bromo) dan berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok.

Dengan kegagalan Bajak membuat lautan di tengah-tengah Gunung Bromo, suka citalah hati Rara Anteng. Ia melanjutkan hubungan dengan kekasihnya, Joko Seger. Kemudian hari Rara Anteng dan Joko Seger menjadi pasangan suami istri yang bahagia, karena keduanya saling mencintai dan mengasihi begitulah kisah sejarah gunung bromo asal mulanya.

Melanjutkan isi Legenda dan sejarah gunung bromo: Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya “Penguasa Tengger Yang Budiman”. Nama Tengger merupakan akronim dari Roro Anteng, disingkat “Teng” dan Joko Seger disingkat “Ger”. Sehingga muncul-lah kata “TENGGER”. Kata Tengger berarti juga Tenggering Budi Luhur atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi.

Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumahtangga belum juga dikaruniai keturunan. Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar karuniai keturunan.

Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo, Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, berbahagialah mereka, tetapi mereka ingat akan akan syarat yang mereka sanggupi pada waktu itu, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita, badai besar pun tiba hingga kawah Gunung Bromo menyemburkan api, dan konon Api itu seperti lidah yang mencari tumbalnya.

Baca juga: Rute dan Akses Menuju Wisata Gunung Bromo

Akhir dari Sejarah gunung Bromo: Tertujulah lidah api tersebut ke pada anak bungsu mereka yaitu KUSUMA. Raden Kusuma pun lenyap dari pandangan karena terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kusuma terdengarlah suara gaib :”Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo. Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Nyadnya Kasada atau Kasodo di Pura Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.

Sejarah Gunung Bromo

Begitulah singkat Cerita dari Legenda dan sejarah Gunung Bromo. Semoga Legenda Gunung Bromo ini melekat untuk kita semua dan menjunjung tinggi adat dan budaya yang berpatokan pada nilai-nilai kearifan lokal hingga sekarang. Bagikanlah sejarah gunung Bromo ini supaya mereka mengenal lebih dekat dengan Bromo.

admin