Aktivitas Tambang Belerang di kawah Ijen

Aktivitas Tambang Belerang di Kawah Ijen

Aktivitas Tambang Belerang di kawah IjenSalah satu hal menarik jika berwisata ke Gunung Ijen adalah adanya aktivitas tambang belerang di kawah Ijen. Para penambang tradisional ini setiap hari mengambil belerang yang ada di sekitar kawah. Bahkan, mereka tidak takut untuk turun mendekati kawah Ijen dan menggali belerang dengan peralatan sederhana tanpa prosedur keamanan yang memadai.

Belerang-belerang yang digali tersebut dikumpulkan dalam keranjang-keranjang bambu besar dan dipikul menuruni Gunung Ijen. Padahal bobot satu pikulan tersebut bisa mencapai 70-80 kilogram, bahkan lebih. Mungkin karena sudah terbiasa, jadi para penambang tersebut tidak kesulitan mengangkut beban sebesar itu menuruni gunung yang terjal.

Baca: Harga Tiket Masuk Wisata Kawah Ijen

Menantang Maut di Kawah Ijen
Para penambang belerang menuruni kawah Ijen yang berasap tebal dan berbau sulfur menyengat tanpa menggunakan masker. Biasanya mereka hanya memakai sarung yang diikatkan ke wajah dan mencari lelehan belerang dari tebing-tebing kawah yang curam.

Lelehan belerang ini diambil dari pipa yang menuju sumber gas vulkanik yang mengandung sulfur. Gas vulkanik tersebut dialirkan lewat pipa dan keluar berupa lelehan belerang berwarna merah. Saat sudah dingin lelehan belerang tersebut menjadi keras dan berwarna kuning.

Kerak-kerak belerang yang sudah membeku tersebut dipotong-potong, agar mudah diangkut. Para penambang akan memikul belerang tersebut menuruni jalan setapak di lereng gunung, sampai ke tempat pengepul sejauh 3 kilometer.

Kondisi jalur pendakian ke kawah Ijen tidaklah mudah. Jalan setapak yang dilewati penuh dengan batu dan licin. Belum lagi kabut yang turun setelah tengah hari akan memperpendek jarak penglihatan. Padahal jalan setapak itu berada diantara tebing dan jurang yang curam.

Belum lagi bahaya yang harus dihadapi saat menuruni lereng kawah. Jika tidak hati-hati bisa terpeleset dan masuk ke dalam kawah yang berair dengan kadar asam sangat tinggi. Apalagi gas sulfur berupa asap pekat bisa datang sewaktu-waktu. Menghirup gas sulfur tentu sangat berbahaya karena bisa menyebabkan sesak nafas, dan tidak baik untuk kesehatan paru-paru apabila dihirup dalam jangka waktu lama. Mata juga akan terasa perih dan kabur karena kadar asam yang tinggi dalam gas.

Kerja Keras Penambang Belerang
Kerja keras para penambang dibuktikan dari kesanggupan mereka memikul beban seberat 80 – 100 kg di pundak mereka menuruni lereng terjal. Dalam sehari penambang belerang sanggup memikul 3 – 4 kali pergi pulang. Padahal tidak semua penambang tersebut berusia muda. Diantaranya ada yang berusia 40 tahun ke atas.

Upah yang diterima untuk sekilo belerang adalah Rp 800,00 per kg. Miris memang. Hasil yang didapat tidak sebanding dengan risiko yang harus dihadapi setiap hari. Tapi itulah pekerjaan mereka, dan setiap hari dilakukan dengan senang hati.

Beberapa penambang yang ingin menambah penghasilan, memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya mengenal jalur pendakian ke Gunung Ijen dengan menjadi pemandu. Biasanya turis lokal memanfaatkan jasa mereka untuk memandu menaiki kaldera kawah Ijen.

Sebagian penambang yang memiliki keahlian seni memahat membuat beberapa bentuk patung kecil dari bongkahan belerang. Patung-patung berbentuk tokoh kartun, Hello Kitty, Donal Bebek, atau bentuk hewan seperti kura-kura, dan kelinci bisa menjadi cinderamata khas kawah Ijen. Di sisi lain, membeli cinderamata tersebut bisa membantu menambah penghasilan para penambang belerang.

Aktivitas Tambang Belerang di kawah Ijen

Pemandangan para penambang belerang ini menjadi ciri khas wisata Gunung Ijen, dan menjadi daya tarik wisatawan. Wisatawan mancanegara sering mengabadikan aktivitas tambang belerang di kawah Ijen dengan kamera sebagai kenang – kenangan perjalanan mereka.

admin